Malang (Aktivis Peneleh) – Pendidikan Dasar Nasional (DIKSARNAS) Aktivis Peneleh Angkatan ke-31 resmi ditutup pada Sabtu (19/7/2026) di Sekretariat Aktivis Peneleh, Malang.
Kegiatan yang berlangsung sejak 16 hingga 19 Juli 2026 tersebut menandai berakhirnya proses kaderisasi dasar bagi peserta Angkatan Catur Birowo, yang mengusung semangat untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dan unggul dalam perjuangan kebangsaan.
Dalam penutupan tersebut, jajaran pimpinan Aktivis Peneleh menegaskan pentingnya menjaga soliditas antar kader serta melanjutkan proses pembelajaran pasca-DIKSARNAS 31 di masing-masing regional. Termasuk mengaktualisasi program-program yang dirancang selama pendidikan sebagai ruang belajar sekaligus pengabdian kepada organisasi dan masyarakat.
Koordinator Nasional: Soliditas Adalah Kekuatan Gerakan
Koordinator Nasional Aktivis Peneleh, Ahmad Tsiqqif Asyiqullah, M.Ag., mengajak seluruh kader baru dari angkatan 31 ini untuk terus berkomitmen, saling merangkul, dan memperkuat solidaritas sebagai fondasi perjuangan.
"Kita sama-sama berkomitmen dan saling merangkul serta solid," ujar di tengah sambutannya.
Ia kembali mengingatkan pesan para Pembina Aktivis Peneleh bahwa "kekuatan satu Aktivis Peneleh itu setara seratus orang." Menurutnya, semangat tersebut harus diwujudkan melalui konsistensi dalam belajar, berkembang, kemudian berjuang untuk nusa dan bangsa.
"Saya tetap konsisten sebagaimana di awal saya sampaikan, kita berjuang untuk nusa dan bangsa, namun sebelum itu belajar dan berkembang," sambungnya.
Tsiqqif juga berharap program-program yang telah dirancang oleh Angkatan Catur Birowo menjadi sarana pembelajaran sekaligus pengembangan kapasitas kader setelah menyelesaikan Pendidikan Dasar Nasional.
Dewan Syuro': Kaderisasi Menumbuhkan Kesadaran sebagai Bangsa Besar
Sekretaris Dewan Syuro' Aktivis Peneleh, Muh. Fadhir A.I. Lamase, M.Ak., menegaskan bahwa tantangan terbesar bangsa saat ini ialah memulihkan kesadaran sebagai bangsa yang besar.
"Pusaka bangsa ini hilang. Bangsa ini cukup compang-camping. Yang dimaksud pusaka itu adalah sebuah kesadaran bahwa kita ini bangsa besar," ungkapnya.
Menurut Fadhir, seluruh proses pengkaderan merupakan manifestasi keyakinan terhadap masa depan bangsa. Mengutip pesan HOS. Tjokroaminoto, ia menegaskan, "Kita bukan seperempat manusia, dan kita adalah bangsa besar."
Ia berharap seluruh peserta DIKSARNAS 31 terus bertumbuh menjadi kader yang unggul dengan meneladani semangat HOS. Tjokroaminoto dalam membangun kesadaran. Menurutnya, proses tersebut tidak selesai dalam satu atau dua tahun, melainkan harus terus dipupuk melalui pendidikan dan kaderisasi berkelanjutan.
Di akhir sambutannya, Fadhir mendorong para lulusan DIKSARNAS 31 untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kaderisasi berikutnya sebagai ikhtiar memperkuat kapasitas diri dan menjaga keberlanjutan perjuangan membangun bangsa. (*)
Ditulis oleh Aktivis Peneleh
19 July 2026 · 2 menit baca