Kembali ke Tulisan
berita · 2 menit baca

SUARAKYAT Aktivis Peneleh Seri Malang Bongkar Krisis Nalar Kritis dan Kedirian Generasi Muda

SUARAKYAT Aktivis Peneleh Seri Malang Bongkar Krisis Nalar Kritis dan Kedirian Generasi Muda


Malang (Aktivis Peneleh) - Di tengah gemuruh tuntutan anak muda terhadap negara, satu pertanyaan justru dilontarkan balik: sudahkah kita menaklukkan diri sendiri? Pertanyaan itu menjadi jantung dari SUARAKYAT, sebuah forum dialog publik perdana yang diprakarsai Aktivis Peneleh, digelar di Dau, Malang, pada Kamis, 9 Juli 2026.

Mengusung tema "Sibuk Menuntut Negara, Tapi Sudahkah Kita Menaklukkan Diri?", forum seri Malang ini menyalakan alarm atas menurunnya daya kritis generasi muda Indonesia - sebuah krisis yang menurut para pembicara tidak lahir dari kejadian besar, melainkan menumpuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dibiarkan.

Forum ini menjadi ruang refleksi bersama atas melemahnya keberanian berpikir kritis sekaligus menipisnya keberpihakan generasi muda terhadap persoalan rakyat. Aktivis Peneleh menegaskan, kritik terhadap kebijakan publik saja tidak cukup - budaya kritik itu sendiri harus dibangun di atas fondasi integritas dan tanggung jawab pribadi.

Korupsi Kecil yang Tak Disadari

Senior Himpunan Mahiswa Islam (HMI) sekaligus aktivis pemerhati perempuan dan anak, Aisyah Alwani, M.Pd. sebagai pembicara pertama, membuka mata peserta bahwa krisis bangsa sering kali bukan soal besar, melainkan kebiasaan sepele yang dianggap wajar. Ia menyoroti rendahnya disiplin waktu sebagai bentuk ketidaketisan yang diam-diam mengakar menjadi budaya.

"Kita kali ini juga mengorupsi sesuatu yang sederhana, itu contoh kecil yang tidak kita sadari karena terlalu sibuk pada persoalan yang besar," ujarnya di tengah penyampaiannya.

Kritik Adalah Hak, Tapi Butuh Jaminan

Instruktur Nasional DPP IMM, Manda Danastri, S.H. pembicara kedua, melanjutkan bahwa mengkritik adalah hak warga negara yang harus dijamin, bukan sekadar diizinkan. Menurutnya, keberanian bersuara tidak akan pernah tumbuh subur bila ruang demokrasi gagal melindungi hak-hak sipil masyarakat.

"Mengkritik itu boleh saja dan jangan tanggung, namun masalahnya adalah jaminan negara terhadap hak kritis," tegasnya.

Kritik Harus Lahir dari Kesadaran, Bukan Reaksi

Ketua Rumah Kaderisasi Aktivis Peneleh, Miftahussurur, S.H. pembicara ketiga, menambahkan bahwa proses kaderisasi selalu dimulai dari membangun konsep diri, jauh sebelum masuk ke pembahasan kritik sosial dan kebangsaan.

Ia menegaskan bahwa pendekatan ini penting agar daya kritis yang tumbuh benar-benar lahir dari kesadaran mendalam, bukan sekadar reaksi sesaat atas persoalan yang viral.

Perjalanan Berlanjut ke Berbagai Daerah

SUARAKYAT dirancang bukan sebagai forum sekali jalan. Seri Malang ini sebagai titik awal dari rangkaian dialog publik yang akan terus bergulir ke berbagai daerah di Indonesia.

Melalui forum ini, Aktivis Peneleh berharap dapat menumbuhkan budaya berpikir yang lebih reflektif, kritis, dan berpihak pada kepentingan rakyat - di tengah tantangan kebangsaan yang terus berkembang dan menuntut generasi muda untuk lebih dulu berani menaklukkan dirinya sendiri. (*)

Bagikan Tulisan Ini

Sebarkan gagasan ini kepada lebih banyak orang.

Ditulis oleh Aktivis Peneleh

10 July 2026 · 2 menit baca

← Tulisan lainnya