Sumenep (Aktivis Peneleh) – Aktivis Peneleh Regional Sumenep menggelar SUARAKYAT yang merupakan diskusi publik bertajuk “Evolusi Kesadaran Gerakan Gen-Z Menjawab Kondisi Zaman” yang dilangsungkan di Kedai Kopi Palotan, Sumenep, Minggu, 12 Juli 2026.
Diskusi yang dimulai pukul 15.00 WIB itu menghadirkan dua pembicara, yakni aktivis muda yang juga merupakan Ketua Rumah Kebudayaan Aktivis Peneleh Kurnia A. Sabili R. dan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Moh. Iskil El-Fatih, dengan fokus bahasan pada pentingnya kesadaran kritis generasi Z di tengah berbagai krisis zaman.
Ketua BEM UNIBA Madura, yang semula dijadwalkan turut menjadi pembicara, tidak hadir dalam acara tersebut. Salah satu pengurus Aktivis Peneleh Regional Sumenep menyampaikan bahwa ketidakhadiran itu disebabkan yang bersangkutan sedang berada di luar kota. Diskusi tetap dilanjutkan tanpa kehadiran Ketua BEM UNIBA Madura.
Kesadaran Kritis dalam Perspektif Paulo Freire
Dalam paparannya, Kurnia A. Sabili R. menjelaskan konsep evolusi kesadaran menurut pemikiran Paulo Freire dalam buku Pedagogy of the Oppressed. Menurutnya, Freire membagi evolusi kesadaran manusia ke dalam tiga tahap, yaitu kesadaran magis, kesadaran naif, dan kesadaran kritis. Ia menilai konsep tersebut relevan untuk memahami cara generasi muda merespons persoalan yang terjadi saat ini.
Ia memaparkan bahwa kesadaran generasi Z berkembang secara bertahap, mulai dari kepedulian terhadap diri sendiri, meningkat menjadi kesadaran sosial, hingga mencapai kesadaran kolektif yang terwujud melalui aksi dan gerakan bersama. Dalam kerangka pemikiran Freire, kesadaran kritis muncul ketika seseorang mampu memahami akar persoalan sosial sekaligus terlibat dalam upaya perubahan.
“Namun dengan perkembangan teknologi hari ini, perlu adanya penambahan terkait dengan kesadaran digital. Karena hari ini kehidupan anak muda lebih banyak berada di gawai. Jadi kesadaran digital ini bertujuan agar seorang anak muda mampu menyaring setiap informasi yang ia dapat,” kata Kurnia di tengah pemaparannya.
Ia melanjutkan, generasi Z saat ini menghadapi sejumlah krisis, di antaranya krisis ekonomi, krisis demokrasi, krisis ekologi, krisis makna hidup, dan krisis kepercayaan. Krisis kepercayaan yang dimaksud mencakup menurunnya kepercayaan antar individu maupun kepercayaan terhadap Tuhan.
Kurnia menambahkan, gerakan anak muda saat ini tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi juga berkembang melalui media sosial dan berbagai platform digital. Ia berpendapat bahwa pemanfaatan teknologi tersebut perlu diimbangi dengan literasi, kemampuan berpikir kritis, serta keterlibatan langsung dalam organisasi dan aktivitas sosial, agar gerakan tidak berhenti sebatas simbol atau tren sesaat.
Krisis Zaman dan Jebakan Aktivisme Digital
Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai jebakan aktivisme digital, yakni kecenderungan sebagian anak muda merasa telah berkontribusi pada perubahan hanya melalui aktivitas di media sosial tanpa disertai kerja nyata. Ia mencontohkan para pendiri bangsa yang menurutnya tidak hanya menulis gagasan, tetapi juga melakukan kerja nyata dalam perjuangan kemerdekaan.
Kurnia juga mengaitkan aktivisme digital dengan apa yang ia sebut politik algoritma, yang menurutnya berkontribusi pada penyebaran hoaks, disinformasi, dan polarisasi yang dinilainya lebih cepat dikonsumsi publik dibanding informasi yang akurat. Ia menyebut kondisi tersebut turut mendorong budaya serba instan, sementara perubahan sosial menurutnya membutuhkan proses panjang. Sebagai contoh, ia menyebut langkah HOS Tjokroaminoto yang selain aktif berjuang juga melakukan kaderisasi untuk mempersiapkan penerus perjuangannya.
Di akhir paparannya, Kurnia menyampaikan “Generasi yang hanya mengikuti arus akan menjadi penonton sejarah, sedangkan generasi yang memiliki kesadaran kritis akan menjadi pelaku sejarah. Maka dari itu, kita harus menjadi anak muda yang memiliki kesadaran kritis untuk terus melakukan kerja-kerja perubahan yang nyata,” tutupnya. (KASR/Red)
Ditulis oleh Aktivis Peneleh
14 July 2026 · 3 menit baca