Menggali Akar Ideologi Jang Oetama: Tauhid Memerdekakan dan Kompas Pergerakan Tjokroisme
MALANG (Peneleh) — Di tengah redupnya kompas ideologi pergerakan masa kini, Aktivis Peneleh kembali menggelar kajian Ngaji Tjokroisme #3 bertajuk "Substansi Ideologi Tjokroisme" pada Rabu, 30 September 2026. Acara ini diselenggarakan secara hybrid berpusat di Malang dan terhubung melalui Zoom Meeting. Forum ini menghadirkan dua pembicara utama, yakni Aulia Tahkim Tjokroaminoto selaku Cicit H.O.S. Tjokroaminoto sekaligus Wakil Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam, serta A. Dedi Mulawarman sebagai Inisiator Tjokroisme.
Narasumber pertama, Aulia Tahkim Tjokroaminoto atau Pak Willy, menyampaikan substansi mendasar dari ideologi Pak Tjokro. Beliau menegaskan prinsip Tauhid yang memerdekakan, di mana seseorang tidak akan menjadi besar selagi masih ada hal yang ditakuti selain Allah SWT. Dalam pandangannya, Tauhid sebagai supra-struktur harus mampu memengaruhi dan mengubah struktur realitas kehidupan. Lebih lanjut, Pak Willy menjelaskan bahwa sebutan Jang Oetama disematkan kepada Pak Tjokro oleh Majelis Tahkim Syarikat Islam 1935, dengan Al-Qur'an Suci sebagai landasan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seluruh substansi pemikiran tersebut tertuang secara konkret dalam Program Asas dan Program Tandhim sebagai bentuk perlawanan.
Sementara itu, A. Dedi Mulawarman memaparkan secara runtut mengenai kronologi dan evolusi kesadaran transformasi pemikiran sang Jang Oetama. Penulisan pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto bergerak mengikuti perkembangan historis serta konteks tempat beliau berada. Sebelum tahun 1916, Pak Tjokro banyak menulis artikel-artikel singkat di koran dan majalah mengenai persoalan Hindia Belanda. Sejak tahun 1916, beliau mulai membuat peta pemikiran yang khas dan unik dengan mendekatkan Islam dari pemikiran dominan saat itu, seperti Nasionalisme, Sosialisme, Kapitalisme, Kolonialisme, dan Pendidikan.
Evolusi kesadaran tersebut terus berkembang seiring pengalaman hidup, ajaran yang diterima, serta diskursus bersama para aktivis pergerakan. Pasca-runtuhnya Kekhalifahan Turki, Pak Tjokro masuk ke dalam ruang kesadaran batin yang makin intens melalui apa yang beliau sebut sebagai Hijrah. Konsepsi Hijrah inilah yang kemudian menjadi titik balik atau paradigm shift bagi beliau dalam memahami Islam yang sejati. Memasuki rentang tahun 1928 hingga 1934, Pak Tjokro masuk dalam ruang berpikir Islam yang lebih rigid, diawali dari terbitnya buku Tarikh Agama Islam serta karya Hikmah dan Substansi Melalui Memeriksai Alam Kebenaran. Berdasarkan buku-buku penting inilah beliau menurunkan Islam sebagai gerak dan laku Islam sejati melalui Tafsir Program Asas, Program Tandhim, Kultur dan Adat Islam, serta Reglemen Wasiat Pedoman bagi Ummat.
Aji Dedi menggarisbawahi bahwa menelusuri pikiran Pak Tjokro, baik secara evolutif maupun integral, mengarahkan pada makna terdalam dengan menggunakan Islam sebagai cahayanya. Pendekatan ini menggeser rasionalisme dan memperdalam makna metafisis, hingga memuncak pada pemakrifatan Islam sebagai bagian dari makna batin, jiwa, keikhlasan, dan ketundukan tanpa reserve. Hal inilah yang disebut beliau sebagai menembah kepada Gusti, memuncakkan keikhlasan memaknai realitas dan alam semesta pada Pencipta melalui ketundukan kemanusiaan dan pengabdian sepenuhnya pada Allah SWT. Bagi kaum Syarikat Islam, Pak Tjokro yang diberi gelar Jang Oetama pasca beliau mangkat merupakan sosok penting dalam pergerakan organisasi terbesar di masanya, di mana tarikan utamanya terletak pada penggunaan Tafsir Program Asas dan Program Tandhim sebagai rujukan utama partai dan gagasan mengenai negara.
Sebagai kesimpulan materi, Tjokroisme dihadirkan sebagai kompas ideologi gerakan dan jalan suci Nusantara. Keyakinan dan pemikiran tentang nilai-nilai Islam dijadikan dasar perjuangan melawan kezaliman (tandhim) untuk meraih kemerdekaan sejati yang berkeadilan bagi seluruh umat manusia melalui gerakan kebudayaan, syuro, dan kesejahteraan Nusantara. Tjokroisme dibangun berdasarkan prinsip utama nilai Islam dan perlawanan atas kezaliman, serta memiliki sikap yang tegas terhadap isu ummat seperti Komunisme, Liberalisme, Pluralitas vs Pluralisme, ketatanegaraan, dekolonisasi sains teknologi, dan lingkungan dengan Paradigma Nusantara. Seluruh ikhtiar pergerakan ini ditopang oleh akhlak keumatan yang berlandaskan tawakkal, ikhlas, mandiri, berani mengungkapkan pendapat, dan jujur.
Ditulis oleh Taufik
19 October 2026 · 3 menit baca