Kembali ke Tulisan
berita Tjokroisme · 3 menit baca

Tjokroisme: Menentang Hegemoni Kapitalisme dengan Spirit Zelfbestuur

Tjokroisme: Menentang Hegemoni Kapitalisme dengan Spirit Zelfbestuur

Tjokroisme: Menantang Hegemoni Kapitalisme dengan Spirit Zelfbestuur

Oleh: Ahmat Tsiqqif ‘Asyiqullah

Francis Fukuyama pernah memproklamirkan "The End of History", sebuah klaim bahwa kapitalisme liberal adalah pemenang tunggal yang takkan tertandingi hingga akhir zaman. Saat ini, ramalan tersebut seolah menjadi kenyataan pahit yang merangsek ke setiap pori-pori kehidupan sosial kita. Kapitalisme bukan lagi sekadar sistem ekonomi, melainkan ideologi yang mendikte cara kita berpikir dan bertindak. Namun, di tengah kepungan tersebut, muncul sebuah antitesis yang berakar pada sejarah dan spiritualitas bangsa: Tjokroisme. Jika kapitalisme dianggap sebagai pemenang tunggal, maka Tjokroisme hadir sebagai penantang paling otentik yang lahir dari rahim perjuangan Nusantara.

Kondisi sosial kita saat ini telah bertransformasi menjadi komoditas dalam sebuah fenomena yang bisa disebut sebagai Jahiliyah Modern atau kedzaliman sistematis. Hal ini tercermin nyata dalam dunia pendidikan yang beralih fungsi menjadi pasar, di mana UKT melangit dan praktik joki tugas merusak esensi intelektualitas. Di ranah politik, jabatan seringkali hanya menjadi ajang investasi untuk mengejar proyek dan pengembalian modal. Bahkan agama pun tak luput dari wajah transaksional, mulai dari fenomena pengajian berbayar hingga komersialisasi simbol spiritual tanpa kedalaman makna. Kondisi ini memaksa kita untuk tidak sekadar menjalani eksistensi tanpa esensi, melainkan harus mulai melakukan kritik mendalam terhadap realitas yang ada.

Dalam upaya melakukan perubahan, kita seringkali terjebak pada dua kutub ekstrem yang keliru dalam memandang sejarah. Pertama adalah "Utopia Kenangan", yaitu terjebak pada romantisasi masa lalu seperti sekadar memuji kehebatan HOS Tjokroaminoto sebagai Raja Tanpa Mahkota tanpa melakukan manifestasi aksi nyata di masa kini. Kedua adalah "Distopia Harapan", sebuah sikap skeptis dan apatis terhadap masa depan karena merasa perubahan adalah hal yang mustahil di bawah cengkeraman sistem saat ini. Tjokroisme hadir sebagai kompas untuk melampaui keduanya; ia merawat kenangan sebagai energi perjuangan dan mengusahakan harapan sebagai target perubahan menuju peradaban yang Zelfbestuur atau mandiri.

Tjokroisme tidak berdiri di ruang hampa, melainkan merupakan integrasi harmonis antara nilai-nilai Islam dan DNA Nusantara. Ia merujuk pada pemikiran HOS Tjokroaminoto dalam Islam dan Sosialisme yang meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dalam melawan kedzaliman, sekaligus mengintegrasikannya dengan kearifan lokal para pendahulu seperti Walisongo. Sinergi ini memastikan bahwa tidak ada paradoks kultur antara identitas kita sebagai warga Indonesia dan nilai-nilai spiritual yang dianut. Menjadi seorang Tjokrois berarti menjadi manusia yang mencintai tanah airnya dengan kesadaran sejarah yang utuh dan semangat juang yang tak kunjung padam.

Untuk mengkonkritkan Tjokroisme di era modern, diperlukan langkah-langkah sistematis yang dibangun di atas fondasi rasa merdeka, kedermawanan, dan persaudaraan. Manifestasi ini dimulai dengan membangun akhlak dan mentalitas yang bebas dari belenggu sistem, diikuti dengan penguatan gerakan sosial untuk melawan instrumen kedzaliman, serta pengembangan sains dan budaya yang berpihak pada kemanusiaan. Sebagaimana visi HOS Tjokroaminoto tentang umat yang akan menjadi "pesawat penolong" bagi keseimbangan dunia, Tjokroisme hadir sebagai pembaharu ideologi yang telah usang. Ini bukan sekadar tentang perjuangan "sama rata", melainkan tentang mewujudkan persamaan rasa dalam balutan keadilan sosial yang hakiki bagi bangsa Indonesia.


Untuk pembahasan lebih mendalam mengenai gerakan konkrit dan sistematis Tjokroisme menuju Indonesia yang Zelfbestuur, kunjungi: tjokroisme.id dan aktivispeneleh.id

Bagikan Tulisan Ini

Sebarkan gagasan ini kepada lebih banyak orang.

Ditulis oleh Super Admin

18 December 2025 · 3 menit baca

← Tulisan lainnya